• baground baru

Selamat Datang di Website SMPN 4 PURWAKARTA | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMPN 4 PURWAKARTA

NPSN : 20217382

Jl. Jend. A Yani No. 41 Purwakarta


smp.4.pwk@gmail.com

TLP : 0264200343


          

Banner

Jajak Pendapat

Bermanfaatkah Website sekolah bagi anda
Ragu-ragu
Tidak
Ya
  Lihat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

Statistik


Total Hits : 459606
Pengunjung : 102707
Hari ini : 19
Hits hari ini : 43
Member Online : 418
IP : 3.235.223.5
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • Rivaldi Rizki Saputra (Siswa)
    2020-04-20 08:17:46

    Kelulusan
  • Noval Perdiyansyah (Siswa)
    2020-04-03 14:20:33

    Ini gimana susah cara nya woey
  • Haanii Jaziilah (Siswa)
    2020-04-03 09:00:05

    Halo gays aku baru masuk nich
  • Fajar Fadhilah Nurochman (Siswa)
    2020-04-03 08:37:17

    17187073
  • Tiara Rahma Aulia (Siswa)
    2020-04-03 08:06:13

    Heyyyy
  • Tiara Rahma Aulia (Siswa)
    2020-04-03 08:01:07

    Rindu ga?
  • Tiara Rahma Aulia (Siswa)
    2020-04-03 07:43:39

    Hayyy
  • Muhammad Hafidz Zainuddin (Siswa)
    2020-03-29 19:33:33

    Dimarahin Bu Yati Apriyati memanglah epic, tapi pernah ga sih, dimarahin Bu Yuli Mulatsih?
  • Muhammad Hafidz Zainuddin (Siswa)
    2020-03-29 19:25:26

    Saya sedang memikirkan bagaimana cara saya menyelesaikan tugas matematika yang berjumlah 80 soal ini hehehe
  • Arie Dwi Nugraha (Siswa)
    2020-03-28 22:08:20

    Menunggu itu waktu yg melelahkan

PROSES PERIWAYATAN HADITS DARI MASA ROSUL SAMPAI MASA PEMBUKUAN HADITS




PROSES PERIWAYATAN HADITS DARI MASA ROSUL SAMPAI MASA PEMBUKUAN HADITS

 

Oleh : Maya Herawaty

                       

 

      Pendahuluan

Mempelajari sejarah pertumbuhan dan perkembangan Hadis diharapkan dapat mengetahui sikap dan tindakan umat islam terhadap Hadis serta usaha pembinaan dan pemeliharaan  pada setiap periode Hadis hingga pada akhirnya muncul kitab-kitab hasil pembukuan secara sempurna yang dalam islam dikenal dengan istilah tadwin.[1]Studi tentang keberadaan Hadis ini selalu semakin menarik untuk dikaji seiring dengan perkembangan analisis dan nalar berpikir manusia.

 

Studi Hadis tidak hanya dilakukan oleh kalangan muslim melainkan juga dilakukan oleh kalangan orientalis. Bahkan, kajian studi Hadis dalam dunia islam semakin menguat dilatar belakangi oleh upaya umat islam untuk membantah terhadap pendapat kalangan orientalis tentang ketidak aslian Hadis.[2] Goldziher misalnya, dia meragukan sebagian besar orisinilitas Hadis yang bahkan diriwayatkan oleh ulama besar seperti imam Bukhori hal ini dikarenakan jarak semenjak wafatnya Nabi Muhammad SAW dengan masa upaya pembukuan Hadis sangat jauh, menurutnya sangat sulit menjaga orisinilitas Hadis tersebut.[3]

 

Oleh karena itu, mengkaji sejarah berarti melakukan upaya mengungkap fakta-fakta yang sebenarnya sehingga sulit untuk ditolak keberadaannya. Perjalanan Hadis pada setiap periode mengalami berbagai persoalan dan hambatan yang dihadapi, antara satu periode dengan periode lainnya tidak sama, maka pengungkapan sejarah persoalannya perlu diajukan ciri-ciri khusus dari persoalan tersebut.

 

Diantara ulama tidak sependapat dalam penyusunan periodesasi pertumbuhan dan perkembangan Hadis. Ada yang membaginya menjadi tiga periode yaitu masa Rasulullah, masa sahabat, dan masa tabi’in. Begitu pula ada yang membaginya menjadi dua periode yaitu masa prakodifikasi dan masa kodifikasi. Bahkan ada yang membaginya dengan spesifikasi yang lebih jelas.

 

Terlepas dari itu kami akan mengemukakan sejarah perkembangan Hadis pada masa prakodifikasi dan perkembangan Hadis pada masa kodifikasi.

 

Pembahasan

  1. Perkembangan Hadis Pada Masa Prakodifikasi

Sejarah perkemabangan hadist pada masa prakodifikasi maksudnya adalah pada masa sebelum pembukuan.[4] mulai sejak zaman Rasullah SAW hingga ditetapkannya pembukuan hadist secara resmi (kodifikasi). Masa ini penulis membagi menjadi tiga periode yaitu masa Rasulullah SAW, masa sahabat dan masa Tabi’in. Adapun periode tersebut dijelaskan sebagai berikut:

 

  1. Hadis Pada Masa Rasullah SAW

Membicarakan Hadis pada masa Rasullah SAW berarti membicarakan Hadis pada awal kemunculannya. Uraian ini akan terkait langsung kepada Rasulullah SAW sebagai sumber Hadis. Rasulullah SAW membina umat islam selama 23 tahun. Masa ini merupakan kurun waktu turunnya wahyu sekaligus diwurudkannya Hadis.[5] Keadaan ini sangat menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat sebagai pewaris pertama ajaran islam.

 

 Wahyu yang diturunkan  Allah SWT kepadaanya dijelaskannya melalui perkataan, perbuatan, dan pengakuan atau penetepan Rasulullah SAW. Sehingga apa yang disampaikan oleh para sahabat dari apa yang mereka dengar, lihat, dan saksikan merupakan pedoman. Rasullah adalah satu-satunya contoh bagi para sahabat, karena Rasulullah memiliki sifat kesempurnaan dan keutamaan yang berbeda dengan manusia lainnya.

 

Adapun metode yang digunakan oleh Rasulullah SAW dalam mengajarkan Hadis kepada para sahabat sebagai berikut:

  1. Para sahabat berdialog langsung dengan Rasulullah SAW
  2. Para sahabat menyaksikan perbuatan dan ketetapan Rasulullah SAW
  3. Para sahabat mendengarkan perkataan sesama sahabat yang diperoleh dari Rasulullah SAW
  4. Para sahabat menyaksikan perbuatan sesama sahabat yang diperoleh dari Rasullah SAW.[6]
  5. Larangan Menulis Hadis Pada Masa Rasulullah SAW

Pada masa Rasulullah SAW sedikit sekali sahabat yang bisa menulis sehingga yang menjadi andalan mereka dalam menerima hadis adalah dengan menghafal. Menurut Abd Al-Nashr, Allah telah memberikan keistimewaan kepada para sahabat kekuatan daya ingat dan kemampuan menghafal. Mereka dapat meriwayatkan Al-Qur’an, hadis, dan syair dengan baik. Seakan mereka membaca dari sebuah buku.[7]

 

Perhatian sahabat terhadap hadis sangat tinggi, terutama diberbagai majlis nabi atau tempat untuk menyampaikan risalah islamiyah seperti di masjid, halaqah ilmu, dan diberbagai tempat yang dijanjikan Rasulullah. Rasulullah menjadi pusat naraumber, referensi, dan tumpuan pertanyaan ketika para sahabat menghadapi masalah, baik secara langsung atau tidak langsung seperti melalui istri-istri Rasulullah dalam masalah keluarga dan kewanitaan, karena mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui keadaan Rasulullah dalam masalah keluarga.

 

Hadis pada waktu itu pada umumnya hanya diingat dan dihafal oleh para sahabat dan tidak ditulis seperti Al-Qur’an ketika disampaikan oleh Nabi, karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan.[8] Secara memang Nabi melarang bagi umum karena khawatir bercampur antara hadis dan Al-Qur’an. Banyak hadis yang melarang para Sahabat untuk menulis hadis, diantara hadis yang melarang penulisan hadis adalah:

 

عَنْ اَبِيْ سَعِيْدُ الْخُدْرِي اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَكْتُبُوْا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّيي غَيْرَ الْقُرْانِ فَلْيَمْحُهُ. رواهُ مسلمٌ

“Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda: janganlah engkau menulis (hadis) dariku, barangsiapa menulis dariku selain dari Al-Qur’an maka hapuslah. (HR. Muslim)”

 

Alasan pencatatan hadis pada masa Rasulullah karena hawatir hadis tercampur dengan Al-Qur’an yang saat itu masih proses penurunan. Oleh karena itu maka pada saat itu nabi melarang keras kepada sahabat untuk menulis dan mencatat hadis agar tidak bercampur dengan Al-Qur’an Al-karim.

 

 

  1. Diperbolehkannya Menulis Hadis Pada Masa Rasulullah SAW

Larangan menulis hadis tidaklah umum kepada semua sahabat, ada sahabat tertentu yang diberikan izin untuk menulis hadis. Nabi melarang menulis hadis karena khawatir tercampur dengan Al-Qur’an dan pada kesempatan lain nabi memperbolehkannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Umar, dia berkata: “Aku permah menulis segala sesuatu yang ku dengar dari Raulullah, aku ingin menjaga dan menghafalkannya. Tetapi orang Quraisy melarangku melakukannya.” Mereka berkata: “Kamu hendak menulis (hadis) padahal Rasulullah bersabda dalam keadaan marah dan senang”. Kemudian aku menahan diri (Untuk tidak menulis hadis) hingga aku ceritakan kejadian itu kepada Rasulullah. Beliau berabda:[9]

اُكْتُبْ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا خَرَجَ عَنِّي اِلَّا حَقٌّ

“Tulislah, maka demi dzat yang aku berada dalam kekuasaannya tidaklah keluar dariku kecuali kebenaran”

 

Adanya larangan tersebut berakibat banyak hadis yang tidak ditulis dan seandainya Nabi tidak pernah melarang pun tidak mungkin hadis dapat ditulis. Karena menurut M Suyudi Ismail hal ini disebabkan oleh beberapa alasan berikut:

 

  • Hadis disampaikan tidaklah selalu di hadapan sahabat yang pandai menulis
  • Perhatian Nabi dan para sahabat lebih banyak tercurah pada Al-Qur’an
  • Meskipun Nabi mempunyai sekretaris tetapi mereka hanya diberi tugas menulis wahyu yang turun dan surat-surat Nabi

 

Sangat sulit seluruh pernyataan, perbuatan, ketetapan, dan hal-hal orang yang masih hidup dapat langsung dicatat oleh orang lain apalagi dengan alat sederhana.[10]

 

  1. Tanggapan Terhadap Larangan Pencatatan Hadis Pada Masa Rasulullah SAW

Menghadapi dua hadis yang tampak bertentangan di atas, ada beberapa pendapat berkenaan dengan ini, yaitu:

  • Larangan menulis hadis terjadi pada periode permulaan, sedangkan izin penulisannya diberikan pada periode akhir kerasulan
  • Larangan penulisan hadis itu ditujukan bagi orang yang kuat hafalannya dan tidak dapat menulis dengan baik, serta dikhawatirkan salah dan bercampur dengan Al-Qur’an. Izin menulis hadis diberikan kepada orang yang pandai menulis dan tidak dikhawatirkan salah dan bercampur dengan Al-Qur’an.
  • Larangan itu ditujukan bagi orang yang kurang pandai menulis dikhawatirkan tulisannya keliru, sementara orang yang pandai menulis tidak dilarang menulis hadis
  • Larangan hadis dicabut oleh izin menulis hadis karena tidak dikhawatirkan tercampurnya catatan hadis dengan Al-Qur’an.
  • Larangan itu bersifat umum, sedangkan izin menulis hadis bersifat khusus kepada para sahabat yang dijamin tidak akan mencampurkan catatan hadis dan catatan Al-Qur’an
  • Larangan ditujukan untuk kodifikasi formal sedangkan izin ditujukan untuk sekedar dalam bentuk catatan yang dipakai sendiri
  • Larangan berlaku ketika wahyu masih turun, belum dihafal dan dicatat. Adapun ketika wahyu yang turun sudah dihafal dan dicatat, maka penulian hadis diizinkan.[11]

 

  1. Hadis Pada Masa Sahabat

Nabi wafat pada tahun 11 H, kepada umatnya beliau meninggalkan dua pegangan sebagai dasar pedoman hidupnya, yaitu al-Qur’an dan  Hadits yang harus dipegangi bagi pengaturan seluruh aspek kehidupan umat. Setelah Nabi saw wafat, kendali kepemimpinan umat Islam berada di tangan shahabat Nabi. Shahabat Nabi yang pertama menerima kepemimpinan itu adalah Abu Bakar as- Shiddiq ( wafat 13 H/634 M) kemudian disusul oleh Umar bin Khatthab (wafat 23 H/644 M), Utsman bin Affan (wafat 35 H/656 M), dan Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H/661 M). keempat khalifah ini dalam sejarah dikenal dengan sebutan al-khulafa al-Rasyidin dan periodenya biasa disebut juga dengan zaman shahabat besar.[12]

 

Sesudah Ali bin Abi Thalib wafat, maka berakhirlah era shahabat besar dan menyusul era shahabat kecil. Dalam pada itu muncullah pra tabi’in besar yang bekerjasama dalam perkembangan pengetahuan dengan para shahabat Nabi yang masih hidup pada masa itu. Diantara shahabat Nabi yang masih hidup setelah periode al-Khulafa al-Rasyidin dan yang cukup besar peranannya dalam periwayatan hadits Nabi saw ialah ‘A’isyah istri Nabi (wafat 57 H/578 M), Abu Hurairah (wafat 58 H/678 M), ‘Abdullah bin Abbas (wafat 68 H/687 M), Abdullah bin Umar bin al-Khatthab (wafat 73 H/692 M), dan Jabir bin Abdullah (wafat 78 H/697 M).[13]

 

Para shahabat mengetahui kedudukan As-Sunnah sebagai sumber syari’ah pertama setelah Al-Qur’an Al-karim. Mereka tidak mau menyalahi as-Sunnah jika as-Sunnah itu mereka yakini kebenarannya, sebagaimana mereka tidak mau berpaling sedikitpun dari as-Sunnah warisan beliau. Mereka berhati-hati dalam meriwayatkan hadits dari Nabi saw. karena khawatir berbuat kesalahan dan takut as-Sunnah yang suci tiu ternodai oleh kedustaan atau pengubahan. Oleh karena itu mereka menempuh segala cara untuk memelihara hadits, mereka lebih memilih bersikap “sedang dalam meriwayatkan hadits” dari Rasulullah., bahkan sebagian dari mereka lebih memilih bersikap “sedikit dalam meriwayatkan hadits”.[14] Periode shahabat disebut dengan “’Ashr al-Tatsabut wa al-Iqlal min al-riwayah” yaitu masa pemastian dan menyedikitkan riwayat. Dalam prakteknya, cara shahabat meriwayatkan hadits ada dua, yakni:[15]

 

  1. Dengan lafazh asli, yakni menurut lafazh yang mereka terima dari Nabi saw yang mereka hafal benar lafazhnya dari Nabi saw.
  2. Dengan maknanya saja, yakni mereka meriwayatkan maknanya bukan dengan lafazhnya karena tidak hafal lafazhnya asli dari Nabi saw.

 

Berikut ini dikemukakan sikap al-Khulafa al-Rasyidin tentang periwayatan hadits Nabi.

 

  1. Abu Bakar al-Shiddiq

Menurut Muhammad bin Ahmad al-Dzahabiy (wafat 748 H/1347 M), Abu Bakar merupakan shahabat Nabi yang pertama-tama menunjukkan kehati-hatiannya dalam meriwayatkan hadits. Pernyataan al-Dzahabiy ini didasarkan atas pengalaman Abu Bakar tatkala menghadapi kasus waris untuk seorang nenek. Suatu ketika, ada seorang nenek menghadap kepada Khalifah Abu Bakar, meminta hak waris dari harta yang ditinggalkan cucunya. Abu Bakar menjawab, bahwa ia tidak melihat petunjuk al-Qur’an dan prektek Nabi yang memberikan bagian harta waris kepada nenek. Abu Bakar lalu bertanya kepada para shahabat. Al-Mughirah bin Syu’bah menyatakan kepada Abu Bakar, bahwa Nabi telah memberikan bagian harta warisan kepada nenek sebesar seperenam bagian. Al-Mughirah mengaku hadir tatkala Nabi menetapkan kewarisan nenek itu. Mendengar pernyatan tersebut, Abu Bakar meminta agar al-Mughirah menghadirkan seorang saksi. Lalu Muhammad bin Maslamah memberikan kesaksian atas kebenaran pernyataan al-Mughirah itu. Akhirnya Abu Bakar menetapkan kewarisan nenek dengan memberikan seperenam bagian berdasarkan hadits Nabi saw yang disampaikan oleh al-Mughirah tersebut.[16]

 

Kasus di atas menunjukkan, bahwa Abu Bakar ternyata tidak bersegera menerima riwayat hadits, sebelum meneliti periwayatnya. Dalam melakukan penelitian, Abu Bakar meminta kepada periwayat hadits untuk menghadirkan saksi.

 

Bukti lain tentang sikap ketat Abu Bakar dalam periwayatan hadits terlihat pada tindakannya yang telah membakar catatan-catatan hadits miliknya. Putri Aisyah, menyatakan bahwa Abu Bakar telah membakar catatan yang berisi sekitar lima ratus hadits. Menjawab pertanyaan Aisyah, Abu Bakar menjelaskan bahwa dia membakar catatannya itu karena dia khawatir berbuat salah dalam periwayatan hadits.Hal ini menjadi bukti sikap kehari-hatian Abu Bakar dalam periwayatan hadits.

 

Data sejarah tentang kediatan periwayatan hadits dikalangan umat Islam pada masa Khalifah Abu Bakar sangat terbatas. Hal ini dapat dimaklumi, karena pada masa pemerintahan Abu Bakar tersebut, umat Islam dihadapkan pada berbagai ancaman dan kekacauan yang membahayakan pemerintah dan Negara. Berbagai ancaman dan kekacauan itu berhasil diatasi oleh pasukan pemerintah. Dalam pada itu tidak sedikit shahabat Nabi, khususnya yang hafal Qur’an, telah gugur di berbagai peperangan. Atas desakan Umar bin al-Khatthab, Abu Bakar segara melakukan penghimpunan al-Qur’an (jam’ al-Qur’an).

 

Jadi disimpulkan, bahwa periwayatan hadits pada masa Khalifah Abu Bakar dapat dikatakan belum merupakan kegiatan yang menonjol di kalangan umat Islam. Walaupun demikian dapat dikemukakan, bahwa sikap umat Islam dalam periwayatan hadits tampak tidak jauh berbeda dengan sikap Abu Bakar, yakni sangat berhati-hati. Sikap hati-hati ini antara lain terlihat pada pemerikasaan hadits yang diriwayatkan oleh para shahabat.

 

  1. Umar bin al-Khatthab

Umar dikenal sangat hati-hati dalam periwayatan hadits. Hal ini terlihat, misalnya, ketika umar mendengar hadits yang disampaikan oleh Ubay bin Ka’ab. Umar barulah bersedia menerima riwayat hadits dari Ubay, setelah para shahabat yang lain, diantaranya Abu Dzarr menyatakan telah mendengar pula hadits Nabi tentang apa yang dikemukakan oleh Ubay tersebut. Akhirnya Umar berkata kepada Ubay: “Demi Allah, sungguh saya tidak menuduhmu telah berdusta. Saya berlaku demikian, karena saya ingin berhati-hati dalam periwayatan hadits ini.

 

Apa yang dialami oleh Ubay bin Ka’ab tersebut telah dialami juga oleh Abu Musa al-As’ariy, al-Mughirah bin Syu’bah, dan lain-lain. Kesemua itu menunjukkan kehati-hatian Umar dalam periwaytan hadits. Disamping itu, Umar juga menekankan kepada para shahabat agar tidak memperbanyak periwayatan hadits di masyarakat. Alasannya, agar masyarakat tidak terganggu konsentrasinya untuk membaca dan mendalami al-Qur’an.Kebijakan Umar melarang para sahabat Nabi memperbanyak periwayatan hadits, sesungguhnya tidaklah bahwa Umar sama sekali melarang para shahabat meriwayatkan hadits. Larangan umar tampaknya tidak tertuju kepada periwayatan itu sendiri, tetapi dimaksudkan: [a] agar masyarakat lebih berhati-hati dalam periwayatan hadits, [b] agar perhatian masyarakat terhadap al-Qur’an tidak tergangu. Hal ini diperkuat oleh bukti-bukti berikut ini:[17]

 

  1. Umar pada suatu ketika pernah menyuruh umat islam untuk mempelajari hadits Nabi dari para ahlinya, karena mereka lebih menetahui tentang kandungan al-Qur’an.
  2. Umar sendiri cukup banyak meriwayatkan hadits Nabi, Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan hadits Nabi yang berasal dari riwayat Umar sekitar tiga ratus hadits. Ibnu Hajar al-Asqalaniy telah menyebutkan nama-nama shahabat dan tabi’in terkenal yang telah meneriam riwayat hadits Nabi dari Umar. Ternyata jumlahnya cukup banyak.
  3. Umar pernah merencanakan menghimpun hadits nabi secara tertulis. Umar meminta pertimbangan kepada para shahabat. Para shahabat menyetujuinya. Tetapi satu bulan umar memohon petunjuk kepada Allah dengan jalan melakukan shalat istikharah, akahirnya dia mengurungkan niatnya itu. Dia khawatir himpunan hadits itu akan memalingkan perhatian umat Islam dari al-Qur’an. Dalam hal ini, dia sama sekali tidak nenampakkan larangan terhadap periwayatan hadits. Niatnya menghimpun hadits diurungkan bukan karena alas an periwayatan hadits, melainkan karena factor lain, yakni takut terganggu konsentrasi umat islam terhadap al-Qur’an.

 

Dari uraian di atas dapat dinyatakan, bahwa periwayatan hadits pada zaman Umar bin al-Khatthab telah lebih banyak dilakukan oleh umat Islam bila dibandingkan dengan zaman Abu Bakar. Hal ini bukan hanya disebabkan karena umat islam telah lebih banyak menghajatkan kepada periwayatan hadits semata, melainkan juga karena khalifah Umar telah pernah memberikan dorongan kepada umat islam untuk mempelajari hadits Nabi. Dalam pada itu para periwayat hadits masih agak “terkekang” dalam melakukan periwaytan hadits, karena Umar  telah melakukan pemeriksaan hadits yang cukup ketat kepad para periwayat hadits. Umar melakukan yang demikian bukan hanya bertujuan agar konsentrasi umat Islam tidak berpaling dari al-Qur’an, melainkan juga agar umat Islam tidak melakukan kekeliruan dalam periwayatan hadits. Kebijakan Umar yang demikian telah menghalangi orang-orang yang tidak bertanggung jawab melakukan pemalsuan-pemalsuan hadits.

 

  1. Usman bin Affan

Secara umum, kebijakan ‘Usman tentang periwayatan hadits tidak jauh berbeda dengan apa yang telah ditempuh oleh kedua khalifah penduhulunya. Hanya saja, langkah ‘Usman tidaklah setegas langkah ‘Umar bin Khatthab.

 

‘Usman secara pribadi memang tidak banyak meriwayatkan hadits. Ahmad bin Hambal meriwayatkan hadits nabi yang berasal dari riwayat ‘Usman sekitar empat puluh hadits saja. Itupun banyak matan hadits yang terulang, karena perbedaan sanad. Matn hadits yang banyak terulang itu adalah hadits tentang berwudu’.[18] Dengan demikian jumlah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Usman tidak sebanyak jumlah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin Khatthab.

 

Dari uraian diatas dapat dinyatakan, bahwa pada zaman ‘Usman bin Affan, kegiatan umat Islam dalam periwayatan hadits tidak lebih banyak dibandingkan bila dibandingkan dengan kegiatan periwayatan pada zaman ‘Umar bin Khatthab. Usman melalui khutbahnya telah menyampaikan kepada umat Islam berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Akan tetapi seruan itu tidak begitu besar pengaruhnya terhadap para perawi tertentu yang bersikap “longgar” dalam periwaytan hadits. Hal tersebut terjadi karena selain pribadi ‘Usman tidak sekeras pribadi ‘Umar, juga karena wilayah Islam telah makin luas. Luasnya wilayah Islam mengakibatkan bertambahnya kesuliatan pengendalian kegiatan periwayatan hadits secara ketat.

 

  1. Ali bin Abi Thalib.

Khalifah Ali bin Abi Thalib pun tidak  jauh berbeda dengan sikap para khalifah pendahulunya dalam periwayatan hadits. Secara umum, Ali barulah bersedia menerima riwayat hadits Nabi setelah periwayat hadits yang bersangkutan mengucapkan sumpah, bahwa hadits yang disampaikannya itu benar-benar dari Nabi saw. hanyalah terhadap yang benar-benar telah diparcayainya. Dengan demikian dapat dinyatakan, bahwa fungsi sumpah dalam periwayatan hadits bagi ‘Ali tidaklah sebagai syarat muthlak keabsahan periwayatan hadits. Sumpah dianggap tidak perlu apabila orang yang menyampaikan riwayat hadits telah benar-benar tidak mungkin keliru.

 

‘Ali bin Abi Thalib sendiri cukup banyak meriwayatkan hadits Nabi. Hadits yang diriwayatkannya selain dalam bentuk lisan, juga dalam bentuk tulisan (catatan). Hadits yang berupa catatan, isinya berkisar tentang hukuman denda (diyat), pembahasan orang Islam yang ditawan oleh orang kafir, dan larang melakukan hokum kisas (qishash) terhadap orang Islam yang membunuh orang kafir.[19]

 

Ahmad bin Hambal telah meriwayatkan hadits melalui riwayat ‘Ali bin Abi Thalib sebanyak lebih dari 780 hadits. Sebagian mant dari hadits tersebut berulang-ulang karena perbedaan sanad-nya. Dengan demikian, dalam Musnad Ahmad, Ali bin Abi Thalib merupakan periwayat hadits yang terbanyak bila dibandingkan dengan ke tiga khalifah pendahulunya.

Dilihat dari kebijaksanaan pemerintah, kehati-hatian dalam kegiatan periwayatan hadits pada zaman khalifah ‘Ali bin Abi Thalib sama dengan pada zaman sebelumnya. Akan tetapi situasi umat Islam pada zaman Ali telah berbeda dengan siatuasi pada zaman sebelumnya. Pada zaman Ali, pertentang politik dikalangan umat Islam telah makin menajam. Peperangan antara kelompok pendukung Ali dengan pendukung Mu’awiyah telah terjadi. Hal ini membawa dampak negative dalam bidang kegiatan periwayatan hadits. Kepentingan politik telah mendorong terjadinya pemalsuan hadits.[20]

Dari urai di atas dapat disimpulkan, bahwa kebijaksanaan para khulafa al-Rasyidin tentang periwayatan hadits adalah sebagai berikut:

  1. Seluruh khalifah sependapat tentang pentingnya sikap hati-hati dalam periwayatan hadits
  2. Larangan memperbanyak hadits, terutama yang ditekankan oleh khalifah ‘Umar, tujuan pokoknyaialah agar periwayat bersikap selektif dalam meriwayatakan hadits dan agar masyarakat tidak dipalingkan perhatiannya dari al-Qur’an
  3. Penghadiran saksi atau mengucapkan sumpah bagi periwayat hadits merupakan salah satu cara untuk meneliti riwayat hadits. Periwayat yang dinilai memiliki kredibilitas yang tinggi tidak dibebani kewajiabn mengajukan saksi atau sumpah
  4. Masing-masing khalifah telah meriwayatkan hadits. Riwayat hadits yang disampaikan oleh ketiga khalifah yang pertama seluruhnya dalam bentuk lisan. Hanya ‘Ali yang meriwayatkan hadits secara tulisan disamping secara lisan.

Adapun penulisan hadits pada masa Khulafa al-Rasyidin masih tetap terbatas dan belum dilakukan secara resmi, walaupun pernah khalifah umar bin khattab mempunyai gagasan untuk membukukan hadits, namun niatan tersebut diurungkan setelah beliau melakukan shalat istikharah. Para shahabat tidak melakukan penulisan hadits secara resmi, karena pertimbang-pertimbangan:[21]

 

  1. Agar tidak memalingkan umat dari perhatian terhadap al-Qur’an. Perhatian shahabat masa khulafa al-Rasyidin adalah pada al-Qur’an seperti tampak pada urusan pengumpulan dan pembukuannya sehingga menjadi mush-haf.
  2. Para shahabat sudah menyebar sehingga terdapat kesulitan dalam menulis hadits.
  3. Hadis Pada Masa Tabi’in

 

Sebagaimana para sahabat para tabiin juga cukup berhati-hati dalam periwayatan hadis . Hanya saja pada masa ini tidak terlalu berat seperti seperti pada masa sahabat. Pada masa ini Al-Qur’an sudah terkumpul dalam satu mushaf dan sudah tidak menghawatirkan lagi. Selain itu, pada akhir masa Al-Khulafa Al-Rasyidun para sahabat ahli hadis telah menyebar ke beberapa wilayah sehingga mempermudah tabi’in untuk mempelajari hadis.

 

Para sahabat yang pindah ke daerah lain membawa perbendaharaan hadis sehingga hadis tersebar ke banyak daerah. Kemudian muncul sentra-sentra hadis sebagai berikut:[22]

 

  1. Madinah, dengan tokoh dari kalangan sahabat seperti ‘Aiyah dan Abu Hurayrah.
  2. Mekkah, dengan tokoh dari kalangan sahabat seperti Ibn ‘Abbas
  3. Kufah, dengan tokoh dari kalangan sahabat seperti ‘Abd Allah Ibn Mas’ud
  4. Basrah, dengan tokoh dari kalangan sahabat seperti ‘Utbah Ibn Gahzwan
  5. Syam, dengan tokoh dari kalangan sahabat seperti Mu’ad Ibn Jabal
  6. Mesir, dengan tokoh dari kalangan sahabat ‘Abd Allah Ibn Amr Ibn Al-Ash

 

Pada masa ini muncul kekeliruan dalam periwayatan hadis dan juga muncul hadis palsu. Faktor terjadinya kekeliruan pada masa setelah sahabat itu antara lain:[23]

  1. Periwayat hadis adalah manusia maka tidak akan lepas dari kekeliruan
  2. Terbatasnya penulisan dan kodifikasi hadis
  3. Terjadinya periwayatan secara makna yang dilakukan oleh sahabat

 

Pemalsuan hadis dimulai sejak masa ‘Ali  Ibn Abi Thalib buukan karena masalah politik tetapi masalah lain. Menghadapi terjadinya pemalsuan hadis dan kekeliruan periwayatan maka para ulama mengambil langkah sebagai berikut:[24]

  1. Melakukan seleksi dan koreksi oleh tentang nilai hadis atau para periwayatnya
  2. Hanya menerima hadis dari periwayat yang tsiqoh saja
  3. Melakukan penyaringan terhadap hadis dari rowi yang tsiqah
  4. Mensyaratkan tidak adanya penyimpangan periwayat yang tsiqoh pada periwayat yang lebih tsiqah
  5. Meneliti sanad untuk mengetahui hadis palsu

 

  1. Perkembangan Hadis Pada Masa kodifikasi

Pada masa ini terjadi kodifikasi hadis yang dimulai pada masa Umar bin Abd Aziz yang mengintrupikan pada Muhammad bin syihab Al-zuhri karena dia dinilai paling mampu dalam hadis. Sehingga pada masa lahir kodifikasi hadis secara resmi ( Ibid, 48).

 

  1. Hadis Pada Masa Awal Sampai Akhir Abad III H

Masa kodifikasi dilanjutkan dengan masa seleksi hadis yaitu upaya mudawwin hadis menyeleksi hadis secara ketat. Masa ini dimulai ketika pemerintahan dipegang oleh dinasti bani ‘Abbasiyah khususnya pada masa Al-Makmun.[25]

  1. Hadis Pada Abad IV Sampai Pertengahan Abad VII

Masa seleksi di lanjutkan pengembangan dan penyempurnaan sistem penyusunan kitab-kitab hadis. Masa ini disebut dengan masa pemeliharaan, penerbitan, penambahan, dan penghimpunan. Maka muncul kitab Al-Muwattha’ karya imam Malik Ibn Anas.[26]

  1. Hadis Pada Masa Pertengahan Abad VII Sampai Sekarang

Masa ini disebut dengan masa pensyarahan, penghimpunan, pentakhrijan, dan pembahasan. Pada masa ini ulama berupaya mensyarahi kitab hadis yang sudah ada.[27]

 

Penutup

Kesimpulan

  1. Wahyu yang diturunkan Allah SWT kepadaanya dijelaskannya melalui perkataan, perbuatan, dan pengakuan atau penetepan Rasulullah SAW. Sehingga apa yang disampaikan oleh para sahabat dari apa yang mereka dengar, lihat, dan saksikan merupakan pedoman. Rasullah adalah satu-satunya contoh bagi para sahabat, karena Rasulullah memiliki sifat kesempurnaan dan keutamaan yang berbeda dengan manusia lainnya.
  2. Nabi wafat pada tahun 11 H, kepada umatnya beliau meninggalkan dua pegangan sebagai dasar pedoman hidupnya, yaitu al-Qur’an dan Hadits yang harus dipegangi bagi pengaturan seluruh aspek kehidupan umat. Setelah Nabi saw wafat, kendali kepemimpinan umat Islam berada di tangan shahabat Nabi. Shahabat Nabi yang pertama menerima kepemimpinan itu adalah Abu Bakar as- Shiddiq ( wafat 13 H/634 M) kemudian disusul oleh Umar bin Khatthab (wafat 23 H/644 M), Utsman bin Affan (wafat 35 H/656 M), dan Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H/661 M). keempat khalifah ini dalam sejarah dikenal dengan sebutan al-khulafa al-Rasyidin dan periodenya biasa disebut juga dengan zaman shahabat besar.
  3. Sebagaimana para sahabat para tabiin juga cukup berhati-hati dalam periwayatan hadis . Hanya saja pada masa ini tidak terlalu berat seperti seperti pada masa sahabat. Pada masa ini Al-Qur’an sudah terkumpul dalam satu mushaf dan sudah tidak menghawatirkan lagi. Selain itu, pada akhir masa Al-Khulafa Al-Rasyidun para sahabat ahli hadis telah menyebar ke beberapa wilayah sehingga mempermudah tabi’in untuk mempelajari hadis.
  4. Pada masa ini terjadi kodifikasi hadis yang dimulai pada masa Umar bin Abd Aziz yang mengintrupikan pada Muhammad bin syihab Al-zuhri karena dia dinilai paling mampu dalam hadis. Sehingga pada masa lahir kodifikasi hadis secara resmi.
  5. Hadis Pada Masa Awal Sampai Akhir Abad III H

 

Masa kodifikasi dilanjutkan dengan masa seleksi hadis yaitu upaya mudawwin hadis menyeleksi hadis secara ketat. Masa ini dimulai ketika pemerintahan dipegang oleh dinasti bani ‘Abbasiyah khususnya pada masa Al-Makmun.

 

  1. Hadis Pada Abad IV Sampai Pertengahan Abad VII

Masa seleksi di lanjutkan pengembangan dan penyempurnaan sistem penyusunan kitab-kitab hadis. Masa ini disebut dengan masa pemeliharaan, penerbitan, penambahan, dan penghimpunan. Maka muncul kitab Al-Muwattha’ karya imam Malik Ibn Anas.

 

  1. Hadits Pada Abad VIII

Dianytara ulama yang pertama kali Menyusun ilmu Rijal al-Hadits ialah : Yahya bin Mu’in (233 H), Ahmad bin Hambal (241 H) Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud Al-Sajtani, Al-Nasai, dsb.

 

  1. Hadis Pada Masa Pertengahan Abad VII Sampai Sekarang

Masa ini disebut dengan masa pensyarahan, penghimpunan, pentakhrijan, dan pembahasan. Pada masa ini ulama berupaya mensyarahi kitab hadis yang sudah ada.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Shobuni, Muhammad Ali. 2003, Al-Tibyan Fi ‘Ulumil qur’an. Madinah: Daru Al-Shobuni.

Fahmi, Akrom. 1999, Sunnah Qabla Tadwin. Jakarta: Gema Insani Press.

Idri. 2013, Studi Hadis. Jakarta: Kencana.

Ismail, M. Syuhudi. 1995, Kaedah-Kaedah Keshahehan Sanad Haits. Jakarta: Bulan Bintang.

Khon, Abdul Majid. 2012, Ulumul Hadis. Jakarta: Amzah.

Kaptein, H.L. Beck dan N.J.G. 1988, Pandangan Barat Terhadap Literatur Hukum, Filosofi, Teologi, Dan Mistik Tradisi Islam. Jakarta: INIS.

Mangunsuwito. 2011, Kamus Saku Ilmiah Populer Disertai dengan Istilah-istilah Aing. Jakarta: Widytama Pressindo.

Suparta, Munzier. 2011, Ilmu Hadis. Jakarta: Rajawali Pers.

Sumbulah, Umi. 2010, Kajian Kritis Ilmu Hadis. Malang: UIN-Maliki Press.

Soetari, H. Endang. 1997, Ilmu Hadits. Bandung: Amal Bakti Press.

 

[1] Munzier Suparta, Ilmu Hadis (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), 69.

[2] Ibid, 69.

[3] H.L. Beck dan N.J.G Kaptein, Pandangan Barat Terhadap Literatur Hukum, Filosofi, Teologi, Dan Mistik Tradisi Islam (Jakarta: INIS, 1988), 70.

[4] Mangunsuwito, Kamus Saku Ilmiah Populer Disertai dengan Istilah-istilah Aing (Jakarta: Widytama Pressindo, 2011), 298.

[5] Muhammad Ali Al-Shobuni, Al-Tibyan Fi ‘Ulumil qur’an (Madinah: Daru Al-Shobuni, 2003), 29.

[6] Umi Sumbulah, Kajian Kritis Ilmu Hadis (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), 39.

[7] Idri, Studi Hadis (Jakarta: Kencana, 2013), 35.

[8] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: Amzah, 2012), 49.

[9] Idri, Studi Hadis (Jakarta: Kencana, 2013), 36.

[10] Ibid, 37.

[11] Idri, Studi,..37-38.

[12] M. Syuhudi Ismail, Kaedah-Kaedah Keshahehan Sanad Haits (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), 41.

[13] M. Syuhudi Ismail, Kaedah-Kaedah Keshahehan Sanad Haits (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), 41.

[14] Akrom Fahmi, Sunnah Qabla Tadwin (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), 124.

[15] H. Endang Soetari, Ilmu Hadits (Bandung: Amal Bakti Press, 1997), 46.

[16] H. Endang Soetari, Ilmu Hadits (Bandung: Amal Bakti Press, 1997), 42.

[17] H. Endang Soetari, Ilmu Hadits (Bandung: Amal Bakti Press, 1997), 46.

[18] H. Endang Soetari, Ilmu Hadits (Bandung: Amal Bakti Press, 1997), 47.

[19] H. Endang Soetari, Ilmu Hadits (Bandung: Amal Bakti Press, 1997), 48.

[20] H. Endang Soetari, Ilmu Hadits (Bandung: Amal Bakti Press, 1997), 49.

[21] Ibid, 41-46.

[22] Idri, Studi Hadis (Jakarta: Kencana, 2013), 44-45.

[23] Ibid, 45-46.

[24] Ibid, 46.

.

[26] Ibid, 50.

[27] Ibid, 51.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :

Pengirim : Jan -  [jan_quesinberry@hotmail.com]  Tanggal : 22/02/2021
generic viagra from us pharmacy https://genviagaraget.com - discount viagra
generic viagra soft
generic viagra india viagra without doctor prescription order
viagra online

Pengirim : Susie -  [susie.embling@aol.com]  Tanggal : 22/02/2021
arret commercialisation buspar https://gecialiscan.com - buy cialis online cheap
dividere pillola cialis
cuanto cuesta cialis en farmacia buying cheap cialis cialis 5 mg prospect

Pengirim : Marianne -  [mariannekevin@moosemail.com]  Tanggal : 21/02/2021
essay evaluation https://essaywritinge.com - how to write a good college essay
narrative essay topics
what is synthesis essay how to write a good high school application essay topics for definition essay


   Kembali ke Atas