• baground baru

Selamat Datang di Website SMPN 4 PURWAKARTA | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMPN 4 PURWAKARTA

NPSN : 20217382

Jl. Jend. A Yani No. 41 Purwakarta


smp.4.pwk@gmail.com

TLP : 0264200343


          

Banner

Jajak Pendapat

Bermanfaatkah Website sekolah bagi anda
Ragu-ragu
Tidak
Ya
  Lihat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

Statistik


Total Hits : 459635
Pengunjung : 102709
Hari ini : 21
Hits hari ini : 72
Member Online : 418
IP : 3.235.223.5
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • Rivaldi Rizki Saputra (Siswa)
    2020-04-20 08:17:46

    Kelulusan
  • Noval Perdiyansyah (Siswa)
    2020-04-03 14:20:33

    Ini gimana susah cara nya woey
  • Haanii Jaziilah (Siswa)
    2020-04-03 09:00:05

    Halo gays aku baru masuk nich
  • Fajar Fadhilah Nurochman (Siswa)
    2020-04-03 08:37:17

    17187073
  • Tiara Rahma Aulia (Siswa)
    2020-04-03 08:06:13

    Heyyyy
  • Tiara Rahma Aulia (Siswa)
    2020-04-03 08:01:07

    Rindu ga?
  • Tiara Rahma Aulia (Siswa)
    2020-04-03 07:43:39

    Hayyy
  • Muhammad Hafidz Zainuddin (Siswa)
    2020-03-29 19:33:33

    Dimarahin Bu Yati Apriyati memanglah epic, tapi pernah ga sih, dimarahin Bu Yuli Mulatsih?
  • Muhammad Hafidz Zainuddin (Siswa)
    2020-03-29 19:25:26

    Saya sedang memikirkan bagaimana cara saya menyelesaikan tugas matematika yang berjumlah 80 soal ini hehehe
  • Arie Dwi Nugraha (Siswa)
    2020-03-28 22:08:20

    Menunggu itu waktu yg melelahkan

HAKIKAT PENDIDIKAN




HAKIKAT PENDIDIKAN

Oleh : Maya Herawaty

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar belakang 

Al-Quran sebagai sumber pedoman umat islam untuk segala aspek kehidupan dapat dijadikan rujukan atau acuan untuk menjadi landasan utama dalam menyusun pedoman yang didalamnya banyak aturan yg mengatur berbagai hal. Begitu juga untuk aspek Pendidikan yang didalamnya banyak menceritakan tentang ilmu pengetahuan, pendidikan semua bidang termasuk hakikat Pendidikan itu sendiri

 

Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 (1) pendidikan adalah: “usaha dasar dan terencana untk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”.

 

Dalam bahasan ini kita akan memahami tentang hakikat Pendidikan dalam persfektif ulumul Quran dan ilmu tafsir 

 

B. Rumusan Masalah 

  1. Apa itu Term Pendidikan dalam Al-Quran
  2. Apa yg dimaksud Tugas Pendidikan
  3. Apa Prinsip-prinsip Pendidikan

C. Tujuan Pembahasan

Tujuan Pembahasan Makalah ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui pengertian Term Pendidikan Al-Quran
  2. Mengetahui Tugas Pendidikan
  3. Mengetahui Prinsip-prinsip Pendidikan

 

BAB II

PEMBAHASAN HAKIKAT PENDIDIKAN

 

  1. Term Pendidikan Dalam Al-Quran

Ada beberapa terminology tentang Pendidikan di dalam Al-quran  yatu diantaranya :

  1. Term Al-Tarbiyyah

Term al-tarbiyyah secara etimologis merupakan bentuk mas}dar dari kata rabbâ, rabba, rabâ (fi’l mâd}î).6 Term al-tarbiyyah, kendatipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur’an, tetapi term turunannya seperti al-rabb, rabbayânî, nurabbî, ribbîyyûn dan rabbânî berjumlah cukup banyak. Semua istilah tersebut memiliki konotasi makna berbeda-beda. Apabila al-tarbiyyah diidentikkan dengan al-rabb, altarbiyyah berarti pemilik, tuan, Yang Maha Memperbaiki, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Mengubah, dan Yang Maha Menunaikan7 atau bermakna al-tanmiyah, berarti pertumbuhan dan perkembangan. Term al-tarbiyah yang berkata dasar al-rabb memiliki pengertian luas, di antaranya berarti memiliki, menguasai, mengatur, memelihara, memberi makan, menumbuhkan, mengembangkan, dan berarti mendidik. Misal dalam Qs. Maryam/19:65, term rabb ditujukan kepada Allah sebagai pengatur dan pemelihara langit dan bumi (rabb alsamâwât wa al-ard{). Allah sebagai al-rabb yang dikaitkan dengan al- ‘âlamîn sebagaimana dalam Qs. al-Fâtih{ah/1:2 dan al-rabb yang dikaitkan dengan al-nâs sebagaimana dalam QS. al-Nâs/114:1 berarti hakikatnya Allah mendidik, menumbuhkan, dan mengembangkan alam termasuk manusia secara berangsur-angsur sehingga sampai kepada tingkat kesempurnaan. Kemudian, term rabb dalam pengertian mendidik yang diatributkan kepada Allah melukiskan Allah dengan segalasifat-Nya yang dapat menyentuh makhluk-Nya seperti pemberian rezeki, kasih sayang, amarah, ancaman, siksaan, dan sebagainya. Kata turunan al-tarbi>yah ditunjuk dalam bentuk mâdi, rabbayânî, sebagaimana dalam Qs. al-Isrâ’/17:24, kamâ rabbayânî sagîran,  dan bentuk mud{âri’-nya, nurabbi sebagaimana dalam Qs. al-Syu’arâ/26:18, alam nurabbika waliyyan, berarti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, memroduksi, membesarkan dan menjinakkan, baik yang mencakup aspek jasmani maupun rohani. Menurut al-Râzî, term rabbayânî tidak hanya pengajaran yang bersifat ucapan yang memiliki domain kognitif tetapi meliputi juga pengajaran tingkah laku yang memiliki domain afektif.  Sementara itu, menurut penafsiran Qut}b, kata rabbayânî bermakna pemeliharaan terhadap anak dan menumbuhkan kematangan sikap mentalnya.

 

Bila didasarkan pada Qs. ‘Âli ‘Imrân/3:79 dan 146, pengertian al-tarbiyah (padanan kata rabbâniyyîn dan ribbiyyûn bermakna transformasi ilmu (pengetahuan) dan sikap pada anak didik, yang memiliki semangat tinggi dalam memahami dan menyadari kehidupannya sehingga terwujud ketakwaan, budi pekerti, dan pribadi yang luhur. Kata ini juga memiliki makna kesempurnaan ilmu dan takwa seseorang kepada Allah swt. Mâjid ‘Ursân al-Kailânî menjelaskan, al-tarbiyyah medium iman; media untuk mengukuhkan amal saleh melalui berbagai pendekatan dan latihan untuk melestarikan eksistensi manusia di bumi.

 

Term al-tarbiyyah mengacu pada penjelasan tersebut, mencakup semua aspek endidikan, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik; jasmani maupun rohani, secara holistik-integral. Term tersebut secara esensial memiliki dua makna. Pertama, pendidikan merupakan proses transformasi menuju kesempurnaan yang dilakukan scara bertahap. Aksentasi makna esensial pendidikan ini transformasi (tablîg) yang asumsinya manusia lahir dengan tidak mengetahi apa-apa kemudian diberikan diberikan iranti berupa potensi-potensi nalar agar mampu menerima sesuatu pengaruh dari luar dirinya (Qs. al-Nah{l/16:78). Fenomena tersebut dapat dilihat dalam kasus Adam yang, awalnya tidak dapat mengenal fenomena alam, seiring dengan tingkat pengembangan nalarnya (akal) --- melalui ‘allama Âdam al-asmâ’ --- mampu menangkap fenomena alam yang dapat digunakan sebagai pelengkap kebutuhan hidupnya. Pendidikan dalam konteks esensial makna pertama ini upaya transformasi nilai (pengetahuan) kepada peserta didik agar memahami dan melaksanakan nilai yang diajarkan dan yang dipelajari. Kedua, pendidikan merupakan proses aktualisasi yang dilakukan secara bertahap dan terencana hingga batas kesempurnaan (kedewasaan). Pendidikan dalam konteks ini menekankan upaya aktualisasi (alinsyâ’). Asumsi ini melihat manusia telah memiliki seperangkat kemampuan (potensi) yang h{anîf (lurus, positif), baik intelektual, emosi, ekonomi, agama, keluarga, dan lain-lain.18 Pendidikan bertugas mengembangkan nilai yang telah ada dalam diri peserta didik sehingga potensi-potensi tersebut menjadi aktual dan dinamis. Meminjam teori konstruktivistik, pendidikan berupaya menumbuhkembangkan potensi potensi peserta didik secara optimal agar sesuai dengan nilai-nilai ilahiah. Berdasarkan dua makna esensial pendidikan ini, al-Marâgî mengorientasikan pendidikan pada dua hal. Pertama, tarbiyyah khulqiyyah, pembinaan dan pengembangan jasad, jiwa, akal dengan berbagai petunjuk. Kedua, tarbiyyah d|îniyyah tahz|îbiyyah, pembinaan jiwa dengan wahyu untuk kesempurnaan akal dan kesucian jiwa.Berdasarkan berbagai komentar tentang pendidikan (Islam) yang ditunjuk dengan term al-tarbiyyah ini, pendidikan bermakna esensial:

 

(1) menjaga dan memelihara pertumbuhan potensi peserta didik untuk mencapai ematangan (kedewasaan), (2) mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik dengan berbagai sarana pendukung (pendengaran, penglihatan, pencium, peraba, akal, hati, ruh), (3) mengarahkan seluruh potensi peserta didik menuju kesempurnaan secaraoptimal, dan (4) semua proses tersebut dilaksanakan secara bertahap sesuai perkembangan peserta didik20 dalam rangka mengabdi kepada Allah. Perlu ditegaskan di sini bahwa proses pembinaan dan pengembangan potensi manusia (peserta didik) melalui berbagai petunjuk dan potensi yang dijiwai nilai-nilai ilahiah dapat menyebabkan potensi manusia produktif dan kreatif tanpa menghilangkan moral ketuhanan sebagaimana yang ditetapkan dalam teks kitab suci. Ini menunjukkan pendidikan itu harus berproses, terrencana, sistematis, memiliki tujuan yang hendak dicapai, ada pelaksananya (pendidik), dan teori-teori tertentu.

 

Ada sebagian para pemikir Muslim mejadikan term al-tarbiyyah untuk menunjuk pendidikan Islam. ‘Atiyah al-Abrâsyî, misalnya, menjelaskan bahwa pendidikan dengan term al-tarbi>yah menunjuk upaya menyiapkan individu yang mencakup keseluruhan aspek pendidikan. Al-Tarbi>yah tidak hanya berorientasi pada ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif dan psikomotor.21 Dilihat dari segi domain yang ingin dicapai dalam menyiapkan individu, al-ta’lîm bagian dari al-tarbiyah sedangkan term al-ta’lîm lebih berorienasi pada domain kognitif dan psikomotorik. ‘Abd al-Fattâh{ Jalâl> menjelaskan, pendidikan dengan term al-tarbiyah merupakan proses persiapan dan pengasuhan manusia dalam fase bayi dan fase kanak-kanak yang terjadi dalam lingkungan. Pengertian ini sebagai manifestasi penafsiran frasa rabbayânî dalam Qs. al-Isrâ’/17:24 dan frasa nurabbi dalam Qs. al-Syu’arâ’/:18. Proses pengasuhan tersebut dilaksanakan secara bertahap dan terjadi hanya pada manusia.24 Al-Galayainî menegaskan, term al-tarbiyyah dimaknai sebagai penanaman etika yang mulia pada anak yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk dan nasihat sehingga ia memiliki potensi dan kompetensi jiwa yang mantap yang dapat membuahkan sifat-sifat bijak, baik, cinta akan kreasi, dan berguna bagi lingkungan nya.25 Implikasi pemaknaan ini penddikan menekankan proses pemberian teladan melalui nasehat (maw’iz}ah wa al-tawjihât).

 

  1. Term Al-Ta’lîm

Term al-ta’lîm merupakan bentuk masdar dari kata ‘allama, berarti mengajar, pengajaran, bersifat pemberian pemahaman, pengetahuan dan keterampilan. Pengertian pendidikan yang ditunjuk dengan term al-ta’lîm ini dapat dijumpai dalam Qs. al-Baqarah/2:31, ‘allama Âdam al-asmâ’ kullahâ. Jika dilihat dari batasan makna term al-ta’lîm, pengertian pendidikan yang dimaksudkan mencakup makna yang luas. Pendidikan dimaknai sebagai proses transformasi seperangkat nilai antarmanusia. Ia dituntut untuk menguasai nilai yang ditansforma

 

sikan secara kognitif, afektif dan psikomotorik. Allah mendidik Adam, sekaligus mengajarinya fenomena alam yang bermuara pada pengakuan kekuasaan dan kebesaran-Nya. Inilah domain afektif yang menekan kan perilaku yang baik (khulq mahmûd), bukan kesombongan dan keangkuhan (khulq gair mah{mûd). Hal itu dikuatkan pula dengan ayat ayat lainnya, seperti Qs. Yûnus/10:5. Allah menyiptakan berbagai ilmu dari telaahan terhadap fenomena alam bagi manusia seperti perhitungan waktu yang berpatokan pada perjalanan bulan dan matahari dengan tetap berpusat pada nilai-nilai ilahiah. Semua fenomena alam yang dijadikan ilmu oleh manusia itu dalam kerangka beribadah kepada Allah. Pendidikan yang ditunjuk dengan al-ta’lîm untuk sampai pada tujuan tersebut merupakan proses yang bersinambung-an yang diusahakan sejak manusia lahir (Qs. al-Nah{l/16:78), wallâh akhrajakm min butû{n ummahâtikum lâ ta’lamûn sya’an, hingga manusia tua renta atau meninggal dunia (Qs. al-Hajj/22:5), ilâ arz|al al-‘umuri likailâ ya’lama min ba’d ‘ilm sya’an. Sebagian pakar pendidikan dalam Islam menggunakan term alta’lîm untuk menunjuk pendidikan Islam. Misalnya Rasyîd Ridâ menjelaskan term al-ta’lîm sebagai proses transmisi berbagai ilmu (pengetahuan) pada seseorang tanpa ada batasan dan ketentuan tertentu.

 

Pemberian definisi tersebut berpijak pada firman Allah dalam Qs. Al-Baqarah/ 2:31 tentang apa yang dilakukan Allah kepada Nabi Âdam as. Sementara itu, proses transmisi dilakukan secara bertahap seperti Nabi Âdam menyaksikan dan menganalisis simbol-simbol (signs) sesuatu yang diajarkan Allah kepadanya. Pengertian al-ta’lîm lebih luas jangkauannya dan lebih umum sifatnya daripada istilah altarbiyyah yang khusus berlaku bagi anak kecil. Adapun al-ta’lîm mencakup fase bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa. Al-Attas mengartikan al-ta’lîm disinonimkan dengan pengajaran tanpa ada pengenalan secara mendasar. Namun bila term al-ta’lim disinonimkan dengan al-tarbiyah, term al-ta’lim berarti pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah sistem. Tampaklah perbedaan antara al-tarbiyah dan al-ta’lim dalam ruang lingkupnya. Term alta’lîm dianggap lebih umum daripada term al-tarbiyah, karena term altarbiyyah tidak mencakup segi pengetahuan dan hanya mengacu kondisi eksistensial. Di samping itu, menurut al-Attas, istilah altarbi>yah merupakan terjemahan dari bahasa Latin, educatio, dan bahasa Inggris, education, keduanya mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik mental. 29 Al-Attas menjelaskan lebih lanjut, jika di dalam istilah education ada pula pembinaan intelektual dan moral, tetapi sumbernya bukanlah wahyu melainkan hasil spekulasi filosofis tentang etika yang disesuaikan dengan tujuan fisik material orang-orang sekuler. Jika dipaksakan untuk mengait-kan dengan kata rabb dalam Qs. al-Isrâ’/17:24, frasa rabbayânî sagîrâ, pendidikan berarti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan, reproduksi, dan menjikankkan. Semua ini merupakan konsekuensi logis dari kata al-rabb yang pada dasarnya mengandung unsur pemilikan dan penguasaan atas sesuatu yang kemudian berperan sebagai obyek didik tersebut. Jika hal ini yang dijadikan alasan, dapat pula diterapkan untuk spesies binatang dan juga tumbuh-tumbuhan. Hal ini tidak mungkin karena di dalam pendidikan Islam harus ada unsur-unsur ilmu dan kebajikan, bimbing an, dan melatih keterampilan. Sementara itu, binatang dan tumbuh tumbuhan tidak dapat menerima ataupun menangkap kebajikan dan menangkap pengetahuan.

 

  1. Term Al-Ta’dîb

Term al-ta’dîb secara etimologis merupakan derivasi (isytiqâq) dari aduba-a’dubu, berarti ‚melatih‛ atau ‚mendisiplinkan diri‛. Ia juga berasal dari kata adaba-ya’dabu, berarti ‚menjamu‛ atau ‚memberi jamuan dengan santun‛. Pendapat lain mengatakan, al-ta’dîb merupakan bentuk mas}dar kata ‘addaba, berarti ‚mendisiplinkan‛ atau menanamkan sopan santun, budi pekerti, dan sejenisnya. Pendidikan dalam konteks al-ta’dîb sebagai upaya menjamu, melayani, menanam kan atau memraktikkan adab (sopan santun) kepada seseorang (peserta didik) agar berperangai baik dan berdisiplin. Sopan santun termasuk dalam ranah afektif-psikomotorik tujuan pendidikan karena seseorang diajak untuk berdisiplin (terampil) dan bertingkah laku positif. Itulah sebabnya ada sebagian pendapat yang menyatakan al-ta’dîb semakna dengan al-ta’lîm yang sama-sama mengandung makna mengajar.Term al-ta’dîb ini sebagaimana dikemukakan al-Attas, sebagai pengenalan secara bertahap yang ditanamkan kepada peserta didik tentang wilayah-wilayah yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Allah dalam tatanan eksistensinya. Pendidikan dalam konteks al-ta’dîb mencakup semua wawasan ilmu (pengetahuan), teoritis-praktis, yang terformulasikan dengan nilai-nilai tanggung jawab dan semangat ilahiah sebagai bentuk peng abdian manusia kepada pencipta (Khâliq)-nya. Pemikir Muslim yang mengindentikkan pendidikan Islam dengan al-ta’dîb antara lain Al-Attas dan Fâd{il al-Djamalî. Al-Attas misalnya mengemukakan, term al-ta’dib> (penyemaian adab dalam diri seseorang) merupakan term paling tepat untuk diidentikkan dengan pendidikan. Argumentasi al-Attas, al-Qur’an menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab itu Nabi Muhammad saw., yang oleh mayoritas kalangan akademik muslim disebut manusia sempurna (manusia universal) sehingga pendidikan Islam harus merefleksikan manusia sempurna dan manusia universal itu. Sementara itu, pendidikan dengan term al-ta’dib ini oleh Fâdil al-Djamalî dianggap sebagai upaya manusia untuk dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat.

 

Berdasarkan terma pendidikan yang telah disebutkan, dapat dikemukakanahwa term al-tarbiyah lebih memadai bagi padanan istilah pendidikan yang di dalamnya mencakup aktivitas pembimbingan ke arah hidup yang bertanggung jawab kepada Allah swt., membekali generasi penerus melaksanakan amanah Allah, baik sebagai hamba Allah maupun khalifah-Nya. Namun, jika disintesiskan ketiga term tersebut, dapat dikemukakan pula bahwa hakikat pendidikan (Islam) itu proses transformasi ilmu (pengetahuan) dan nilai-nilai kehidupan pada peserta didik melalui penumbuhan dan pengembangan berbagai potensinya untuk mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam berbagai aspeknya.34 Rasulullah saw. ketika mengajarkan alQur’an kepada sahabatnya tidak sekedar dapat membaca melainkan membaca dengan perenungan (reflektif) yang berisi pemahaman, tanggung jawab, dan penanaman amanah.

 

Batasan pendidikan sebagaimana dikemukakan tersebut memiliki relevansi dengan rumusan pendidikan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut: Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan darinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

 

 

 

 

  1. Tugas Pendidikan
  1. Aspek-aspek Negatif Manusia dan Arti Penting Pendidikan Manusia Sebagaimana telah dijelaskan memiliki sifat-sifat positif dalam bentuk potensi-potensi positif bagi upaya pendidikan. Manusia memiliki sifat-sifat negatif yang merupakan tugas pendidikan untuk membimbingnya. Penelusuran terhadap ayat-ayat al-Qur’an menunjuk kan, manusia memiliki sifat-sifat negatif sekaligus menjadi sikap kelemahannya. Manusia diidentifikasi sebagai amat zalim dan bodoh, zalûman jahûlan (Qs. al-Ahzâb/33:72) sebagai tanda bahwa manusia makhluk pembangkang. Manusia telah diberi amanat disertai seperangkat alat-alat potensial dasar untuk dikembangkan melalui aktivitas pendidikan dan diaktualisasikan dalam realitas kehidupan, tetapi banyak acuh tak acuh melakukannya, lengah (jahûlan) dan menyianyiakannya (zalûman). Manusia juga diidentifikasi sebagai za’îfan, makhluk lemah, tidak berdaya sendiri, melainkan kekuatan yang di berikan Allah (Qs. al-Nisâ’/4:28 dan al-Kahf/18:39). Ayat ini menjelaskan tentang adanya anggapan tentang penetapan hukum-hukum Allah yang diandang berat oleh sebagian manusia. Anggapan berat itu hanyalah bisikan nafsu, karena adanya penetapan hukum tersebut dalam rangka meringankan manusia dalam melaksanakan tuas hidup nya.36 Manusia, dengan kelemahannya ini tidak pantas berlaku sombong dengan segala yang dimiliki dan digenggamnya. Al-Qur’an juga menyebut manusia suka membantah dan menentang Allah (aksar jadalan) sebagai penciptanya (Qs. al-Kahf/18: 54). Ia telah diberi sejumlah potensi dasar untuk hidup, tetapi digunakan untuk membantah ajaran Allah.37 Kata sya’y dalam ayat tersebut memberi kesan bahwa manusia tidak boleh angkuh dan membantah tuntunan Allah karena bagian dari makhluk Allah.

Firman Alah dalam Qs. Al-Isrâ’/17:11 mengidentifikasi manusia sebagai akhluk yang tergesa-gesa, ‘ajûlan. Manusia suka menuntut sesuatu kebaikan dan keuntungan apa saja dengan segera (jalan pintas) dengan dorongan hawa nafsu. Di samping itu, manusia seringkali meng-ingkari nikmat, al-insân lakafûran, dan kebenaran ajaran Allah, aksar al-nâs kafûran, sebagaimana disinggung Qs. al-H{ajj/22:66 dan alIsrâ’/17:89. Salah satu bentuk nikmat itu dalam Qs. al-H{ajj/22:66 kematian, sedangkan dalam al-Isrâ’/17:89 petunjuk al-Qur’an untuk kehidupan mansia. Manusia telah diberikan banyak nikmat tetapi ia mengingkarinya sehingga kerugiannya harus ditanggung sendiri (Qs. Fât{ir/ 35:39). Al-Quran juga mengidentifikasi manusia sebagai makhluk yang mudah gelisah (khuliqa halû’an) dan banyak keluh kesah dalam menghadapi cobaan (massahu al-syarr jazû’an) serta kikir (massah al-khayr manû’an) (Qs. Al-Ma’ârij/70:19-21). Manusia mudah cemas dan tidak tabah dalam menghadapi musibah, mudah resah dan gelisah sehingga kehiangan mental ketika ditimpa musibah.39 Namun, ketika diberi nikmat dan rahmat oleh Allah, mereka serakah, tamak, dan kikir sehingga tidak memiliki kepedulian sosial. Berbagai sifat-sifat tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki ketergantungan dan menyadarkan diri untuk memerhatikan dirinya yang serba terbatas bila dibandingkan Allah, Pencipta Yang tidak terbatas. Pendidikan dalam Islam bertugas, antara lain: (1) membimbing dan mengarahkan ((al-irsyâd al-tawjîh) manusia agar menyadari eksistensinya sebagai makhluk terbatas, (2) membimbing dan mengarahkan mausia agar mampu mengendalikan diri dan (3) menyingkirkan sifat dan sikap negatif agar menjadi sosok yang baik dan model yang layak ditiru.

 

  1. Pendidikan dan Pengembangan Potensi (Tanmiyyah al-Fit{rât) Manusia emiliki potensi yang merupakan modal dasar bagi pelaksanaan pendidikan, karena itu inti pendidikan menumbuhkembangkan potensi-potensi manusia. Berdasarkan etunjuk al-Qur’an, potensi-potensi manusia mencakup: (1) potensi beragama, (2) potensi intelek, (3) potensi sosial, (4) potensi susila, (5) potensi ekonomi, (6) potensi seni, (7) potensi maju dan berkembang, (8) , dan lain-lain.

 

  1. Pendidikan dan Pewarisan Budaya (Tahwîl al-Hadârah))

Ada dua istilah dalam sejarah pendidikan Islam yang sama tetapi sering dipertukarkan dalam penggunaannya, yaitu kebudayaan dan peradaban. Seorang orientalis Belanda bernama A.J. Wensinck menjelaskan dua istilah tersebut dengan baik. Kebudayaan, menurut A.J. Wensinck artinya lebih luas daripada peradaban, karena kebudayaan merupakan akal budi manusia yang bersifat batiniah. Akal budilah yang mendorong manusia menyiptakan kesusasteraan, kesenian, dan sebagainya dalam rangka mencapai kehidupan manusia yang lebih baik. Kebudayaan merupakan salah satu yang memimpin manusia dalam kehidupan baik dalam lapangan agama, filsafat, politik, ekonomi, sosial, sains, maupun etika. Sementara itu peradaban merupakan hasil olah akal budi dalam bentuk lahirian. Misal, kemampuan membangun pencakar langit, mengirim satelit ke ruang angkasa, dan sebagainya. Pasang surut kebudayaan dan peradaban menurut Wensinck tidak harus berjalan paralel.44 Singkat kata, kebudayaan bermakna erkembangan intelektual sedangkan peradaban bermakna tingkat kemajuan dalam perkembangan sosial. Kebudayaan lahir karena manusia bersifat kreatif dengan potensi intelek (nalar) yang dimilikinya. Pengejawantahan kemampuan nalar (akal) untuk kemajuan kehidupan manusia melahirkan ilmu (pengetahuan). Pendidikan (Islam) menyediakan segala fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan Islam tercapai. Pernyataan Allah dalam Qs. al-Mujâdalah/58:11 menekankan dua hal. Pertama, orang yang diangkat derajatnya oleh Allah orang beriman, orang yang menyatakan dengan kesadaran dirinya bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya. Kesadaran ini mendorong seseorang untuk mengembangkan sikap hidup yang dijiwai oleh semangat tauhid. Iqbal menyatakan, esensi tauhid sebagai landasan/ide kerja itu persamaan, kesetiakawanan, dan kebebasan sehingga berimplikasi terhadap sikap seorang mukmin yang senantiasa mendudukkan orang lain sederajat dengannya, tidak ada sesuatu yang mengurangi atau membatasi kemerdekaan dirinya kecuali Allah. Perbeda an antara seseorang dengan orang lain terletak pada derajat ketakwaan. Ia mau mengakui dan menghargai pendapat dan gagasan orang lain, sekaligus mau mengakui kelemahan dirinya dan kelebihan orang lain. Ia akan memiliki sikap kemandirian, berpikir kritis, rasional, kreatif, memiliki kepedulian untuk melakukan penelitian empirik atau eksperimen secara objektif, amanah dan tanggung jawab atas perbuatannya dalam kehidup dan nyata tanpa harus ter-belenggu oleh segala sesuatu kecuali Allah. Sementara itu, pernyataan ‚Muhammad utusan Allah‛ berimplikasi bahwa tolok ukur kebenaran dan kebaikan sikap, perbuatan dan langkah kaum Muslim dapat diuji dengan mengacu kepada nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi saw.

 

Kedua, orang yang akan diangkat derajatnya itu orang yang diberi ilmu pengetahuan, yakni orang-orang yang sungguh-sungguh menggali, menelaah dan mengembangkan ilmu (pengetahuan). Sumber ilmu (pengetahuan) pada hakekatnya Allah melalui ayat-ayat qauliyah (wahyu) dan ayat-ayat kauniyah-Nya (alam semesta). Kenyataan ini pernah diraih oleh kaum Muslim di masa kejayaannya (sekitar abad VII-XII M) dan peradaban dunia Islam menjadi cermin bagi para ilmuan non Muslim, terutama di Eropa (Barat) yang disebut sebagai masa Middle Age. Namun, sekarang peradaban dunia Islam terbalik, mirip seperti Barat di masa pertengahan, Middle Age untuk menyebut abad kepegalapan Eropa. Menurut Muhammad Abdussalam, ortodoksi

 

  1. Prinsip-prinsip Pendidikan

Ada beberapa prinsip yang menjadi dasar dalam pendidikan yang dijelaskan dalam al-Qur’an. Pertama, prinsip tauhid (monotheisme). Tauhid merupakan ajaran fundamental bagi setiap agama. Para nabi dan rasul sejak Nabi Âdam as. hingga Nabi Muhammad saw. pun menerima dan mengajarkan tauhid kepada umatnya (Qs. al-Nahl/16: 36, al-Anbiyâ’/21:25, al-Zukhrûf/43:45). Firman Allah dalam Qs. alAnbiyâ’/21:22 menjelaskan, hanya Allahlah yang telah menyiptakan alam ini dan sekaligus mengaturnya. Jika Allah itu lebih dari satu, polytheis, tentu alam ini hancur. Ketika al-Qur’an datang kepada manusia, Ahl al-Kitâb -- kaum Yahudi dan Nasrani -- pun diajak untuk bertauhid, karena mata rantai para nabi dan rasul selalu menekankan ajaran tauhid ini.46 Ajakan ilâ kalimah sawâ yang dijelaskan dalam Qs. Âli ‘Imrân/3:64 menunjukkan ajakan bertauhid yang ditegaskan dalam rangkaian ayat tersebut dengan ungkapan, allâ na’buda illâ Allâh walâ nusyrika bih sya’an walâ yattakhiz|a ba’du{nâ ba’dan arbâban min dûnillâh. Nabi Muhammad saw. pun mengajarkan tauhid ini pertama kali kepada umatnya di Mekkah. Tauhid merupakan konsep revolusioner di kalangan manusia. Islam berusaha mengubah kepribadian manusia diawali dengan mengubah kecenderungan dan mindset seseorang, yakni merubah ideologi (keyakinan) manusia. Itulah alasan al-Qur’an datang kepada masyarakat Arab (Mekkah) yang mengajarkan bertauhid pertama kali dan mengukuhkannya. Penanaman tauhid (akidah) kepada seseorang sangat menentukan kepribadian seseorang. Tauhid merupakan fondasi (asas) bangunan kehidupan manusia, termasuk kepribadiannya. Tauhid juga merupakan aspek batin yang memberikan motivasi dan orientasi kepribadian manusia. Tauhid menjadi sifat utama dan dominan dalam kepribadian manusia yang berpengaruh dan mengorientasikan sifat-sifat lain. Iman dapat dikatakan sebagai sumber akhlak, sementara itu, akhlak berperan penting dalam mengetahui dan mengendalikan manusia untuk mengetahui hakikat (esensi hidup) dan kebenaran.48 Selanjutnya, implikasi tauhid bagi kepribadian manusia dapat dlihat dalam bberapa aspek. Petama, tauhid membentuk kepribadian utuh (holistik, jam’). Seorang yang bertauhid seluruh jiwa dan raganya akan dioientasikan hanya untuk Allah, tidak terkotak-kotak, tidak terpecah sehingga jiwanya tenang. Berbeda dengan orang polytheis, karena Allah dipandang memiliki syarikat sehingga jiwa dan orientasi hidupnya terbelah. Allah memberikan metafora orang bertauhid dan berperilaku syirik dengan budak (rajul) dan majikan. Orang yang berprilaku syirik diilustrasikan sebagai budak yang dimiliki oleh beberapa orang bersyerikat (dalam perselisihan). Pengabdian budak akan terpecah kepada beberapa tuan nya sehingga terbelah pula kepribadiannya sebagaimana halnya orang berperilaku syirik. Orang bertauhid diilustrasikan dengan budak yang dimiliki oleh seorang tuan, ia akan mengabdikan hidup sepenuh hati nya untuk tuanya. 49 Orang bertauhid dengan merefleksikan metafora tersebut akan mengabdikan seluruh pikiran, tenaga, dan waktunya anya kepada Allah. Tauhid juga dapat membentuk kepribadian terbuka, al-tasâmuh, menerima kebenaran yang datang dari mana saja dan dari siapa saja. Keengganan menerima kebenaran dari orang lain merupakan bentuk keangkuhan dan belenggu yang diciptakannya untuk keinginan dirinya sendiri (hawa nafsu). Hawa nafsu itulah yang menghalangi manusia menerima kebenaran dari pihak lain.50 Orang bertauhid akan memandang bahwa kebenaran yang dimlikinya bersifat nisbi sehingga secara inklusif menerima kebenaran dari pihak lain. Kepribadian terbuka yang yang berlandaskan tauhid memungkinkan seseorang mendengarkan pendapat orang lain kemudian memahaminya dengan kritis sebagai anjuran Qs. al-Zumar/39:17-18. Term al-qawl dalam frasa al-laz|îna yastami’ûna al-qawl, meliputi sabda Nabi saw., firman Allah dan pendapat manusia. Orang yang bersikap terbuka itulah yang disebut dalam tersebut sebagai ulû al-albâb dan beriman.

 

Di samping itu, tauhid membentuk kepribadian optimis. Sikap optimis terbentuk dari jiwa yang kuat. Orang yang berjiwa kuat tidak akan takut menghadapi berbagai cobaan karena ia yakin bahwa Allah bersamanya. Orang yang yakin betul Allah selalu menyertainya akan memiliki kepecayaan diri yang kuat sehingga Dia dapat dialog untuk memecahkan persoalan kehidupannya. Keyakinan ini akan meneguhkan manusia yang bertauhid tidak berputus asa dari rahmat Allah, sehingga jika terlanjur melakukan kesalahan dan dosa langsung bertaubat kepada-Nya (Qs. al-Zumar/39:53). Sikap hidup optimis berakar dari berprasangka baik kepada Allah dan yakin benar bahwa Dia mengatur kehidupannya. Kedua, prinsip melaksanakan misi Allah (al-risâlah). Risalah itu pesan-pesan Allah yang dibawa oleh para nabi dan rasul kepada umat manusia. Risalah Nabi Muhammad merupakan mata rantai dari risalah para nabi dan rasul sebelumnya. Pesan (misi) tersebut berisi keimanan (tauhid), pesan-pesan moral (akhlak), dan tatanan hidup yang berkait an dengan relasi antara manusia dengan Allah, relasi manusia dengan sesama manusia, dan relasi manusia dengan alam sekitarnya. Setiap nabi dan rasul membawa risalah yang sama, menauhidkan Allah (Qs. al-A’râf/7:59-85 dan Âli ‘Imrân/3:64). Perbedaan risalah para nabi berbeda hanya dalam persoalan muamalah, seperti makanan, tata cara ibadah kepada Allah, dan sebagainya. Risalah Allah yang dibawa Nabi Muhammad saw. mengandung tiga hal. Pertama, risalah tauhid (keimanan) yang berisi iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi dan rasul, hari kiamat, dan takdir. Seseorang yang mengimani persoal an-persoalan ini akan melahirkan perilaku-perilaku terpuji (akhlak mah{mudah). Firman Allah dalam Qs. al-Baqarah/2:3 menjelaskan, indikator orang bertakwa itu, beriman yang diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial melalui infak dan beribadah kepada Allah dengan melaksanakan salat. Firman Allah dalam Qs. al-Baqarah/2:177 ditegas kan, keimanan harus diwujudkan dalam kepedulian sosial (kebajikan) seperti kepedulian kepada kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta; memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, menunaikan zakat, menepati janji dan bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Kedua, hukum normatif berupa perintah dan larangan Allah untuk dilaksanakan dan ditinggalkan. Hukum normatif ini biasanya disebut dengan ibadah mahdah seperti salat, zakat, puasa, dan haji. Hukum lainnya berupa hukum normatif berkaitan dengan interaksi antara manusia dengan sesama manusia seperti jual beli, pernikahan, berpolitik, dan interaksi dengan alam dengan melakukan pelestarian alam. Ketiga, hukum yang tidak bersifat normatif, hukum alam yang berlaku di alam raya. Firman Allah dalam Qs. al-A’râf/7:10 menjelaskan, bumi yang mengandung segala keperluan bagi kehidupan manusia. Bumi dipenuhi dengan segala benda dan sistem yang berlaku padanya. Manusia dituntut menyesuaikan diri dengan sistem yang diciptakan Allah sehingga akan memeroleh kebahagiaan hidup. Agar manusia dapat menyesuaikan diri dengan bumi dan sistem yang berlaku di dalamnya, manusia dituntut meneliti dan mengkaji fenomena alam (Qs. Âli ‘Imrân/3:190-191, alNisâ’/4:82). Penelitian dan pengkajian terhadap fenomena alam, di samping dapat memeroleh ilmu (pengetahuan), juga dapat menguatkan akidah. Pendidikan dibangun dalam kerangka mewariskan pesan-pesan Allah dan pengembangan risalah-Nya. Ketiga, prinsip persamaan (al-‘âlamiyyah). Prinsip tauhid dalam pendidikan akan melahirkan landasan/ide kerja persamaan, kesetia kawanan, dan kebebasan sehingga berimplikasi terhadap sikap seorang mukmin yang senantiasa mendudukkan orang lain sederajat dengan- ya, tidak ada sesuatu yang mengurangi tau membatasi kemerdekaan dirinya kecuali Allah. Prinsip ini menekankan agar di dalam pendidik an (Islam) tidak terdapat ketidakadilan perlakuan atau diskriminasi

 

membedakan suku, ras, jenis kelamin, status sosial, latar belakang, dan sebagainya.             Manusia diciptakan oleh Tuhan yang sama, Allah swt. (Qs. Al-Hujurât/49:13). Misi dan risalah Islam sebagaimana yang ditegaskan dalam Qs. Al-Mâidah/5:3 tidak hanya untuk orang Arab, melainkan untuk seluruh manusia.Al-Qur’an juga menegaskan bahwa ajaran Islam berlaku untuk semua manusia tanpa membedakan agama dan kepercayaan. Perbedaan keyakinan manusia tidak menghalangi manusia untuk berkreasi dan berinovasi sehingga manusia dapat berlomba dalam menggapai kesejahteraan (Qs. al-Mâ’idah/5:48). Al-Qur’an menjelaskan bahwa Islam memberi kebebasan manusia untuk berpikir, termasuk bebas dalam menentukan keyakinan sehingga tidak ada paksaan dalam memilih keyakinan yang dianggap menenteramkan jiwanya (Qs. al-Baqarah/ 2:256). Pendidikan Islam pada dasarnya bersifat terbuka, demokratis, dan universal. Keterbukaan pendidikan Islam ditandai dengan kelenturan untuk mengadopsi unsur-unsur positif dari luar, sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakatnya, dengan tetap menjaga dasar-dasarnya yang original (salih), yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadis. Keempat, prinsip integralitas, komprehensif (al-syumûl). Integralitas merupakan implikasi dari keutuhan pandangan al-Qur’antentang manusia.53 Peserta didik dalam konteks ini dipandang sebagai manusia dengan segala atribut yang dimilikinya secara utuh sehingga dalam akti-fitas praksis pendidikan, upaya-upaya yang dilakukan oleh pendidik senantiasa didasarkan pada keterpaduan. Konsep integralitas memandang peserta didik bersama konteks waktu yang dialaminya. Ini berarti pendidik melihat peserta didik sekaligus dengan mengikut sertakan situasi yang sedang terjadi dan dihayatinya serta tempat yang sedang dihuninya. Tindakan pendidikan akan senantiasa mengikuti perkembangan dan perjalanan pengalaman yang sedang terjadi dalam  diri peserta didik (bersifat aktual dan kontekstual). Pendidikan dilihat dari segi tujuan memberikan orientasi pada pembinaan pribadi yang jelas dan komprhensif mengenai wujud manusia yang hendak dicapai nya. Konsep dasar tersebut berimpli-kasi pada tindakan pendidikan yang sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk Allah dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang memerlukan pendidikan (Qs. al-Rûm/30:30, al-Ah{zâb/33:72, dan lain-lain). Pendidikan Islam tidak mengenal pemisahan (dikotomik) antara sains dan agama. Keduanya harus terintegrasi secara harmonis. Allah dalam ajaran Islam pencipta alam semesta termasuk manusia. Dia pula yang menurunkan aturan-aturan untuk mengelola dan melestarikannya, baik tentang alam fisik, sunatullah, maupun pedoman hidup untuk kehi-dupan manusia, dinullah, mencakup akidah dan syariah. Firman Allah dalam Qs. al-‘Alaq/96:-1-5 dan al-‘Ankabût/29:45 menjelaskan perintah Allah untuk melakukan aktivias membaca reflektif (al-bahs, al-tadabbur, al-tafakkur) yang wujudnya berupa fenomena alam (Qs. Yûnus/10:101). Kelima, prinsip keseimbangan, al-tawâzun. Keseimbangan ini merupakan kemestian dalam pendidikan sehingga dalam pengembangan dan pembinaan manusia tidak ada kepincangan dan kesenjangan. Keseim-bangan ini mencakup keseimbangan antara berbagai aspek kehidupan; keseimbangan antara material dan spritual, jasmani dan rohani (Qs. al-H{ir/15:28 dan al-Tîn/95:4), ilmu dan amal (Qs. al-‘Asr103:1-3), urusan hubungan dengan Allah dan sesama manusia, hak dan kewajiban (Qs. al-Zâ|riyyât/51:56 al-Baqarah/2:30 dan Yûnus/10:14).

 

Pendidik dalam konteks pembelajaran harus memerhatikan keseimbangan dengan menggunakan pendekatan yang relevan. Pendidik juga, selain mentrasfer ilmu (pengetahuan), perlu mengondisikan secara bijak dan profesional agar peserta didik dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di dalam maupun di luar kelas. Keenam, prinsip selaras dengan hakikat manusia. Pendidikan merupakan aktivitas yang dilakukan orang dewasa untuk merubah peserta didik mencapai kedewasaannya sesuai dengan fitrah peserta didik yang meliputi beberapa prinsip. Pertama, mengembangkan fitrah (potensi diri) yang telah dimiliki sejak awal penciptaan sebagai janji primordial (Qs. al-A’râf/7:172). Kedua, memelihara kemuliaan anak. Kemuliaan tersebut disebabkan manusia dikaruniai Allah daya intelek tualitas tinggi, dikaruniai segala fasilitas hidup di dunia untuk dikelola sebagai sarana beribadah kepada Allah. Berbekal intelektualitas tinggi, fasilitas hidup yang serba cukup, dan bimbingan rasul dan pedoman dan petunjuk hidup-Nya, manusia dapat membedakan yang benar dan salah, baik dan buruk, indah dan jelek, dan sanggup menyingkap rahasia ilmu Allah. Jika manusia tidak dapat memanfaatkan potensi tersebut atau menyalahgunakannya, ia dapat jatuh pada derajat yang hina, lebih hina dibanding hewan (Qs. al-A’râf/7:179). Pendidikan dituntut untuk memelihara kemuliaan anak, dengan selalu sadar terhadap karunia Allah, sadar terhadap keberadaan dirinya dan selalu berlomba-lomba mencari kebaikan dan ketakwaan di sisi Allah. Ketiga, menyadarkan tugas dan fungsi manusia baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah Allah.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas